Rabu, 21 Oktober 2015

Iman, Islam dan Ihsan



IMAN, ISLAM dan IHSAN
Oleh:
SETIONO
A.    Latar Belakang
Agama yang diturunkan tuhan dengan perantaraan rasul-rasulnya, ialah memberi pimpinan bagi manusia di dalam usahanya memberi nilai hidupnya sendiri. Karena dasar yang asli daripada jiwa manusia itu, karena dia berakal dan berfikir, ialah mencari rahasia yang tersembunyi di belakang kenyataan itu.
Banyak sudah bukti bahwa tuhan menciptakan manusia itu secara sempurna. Salah satunya terdapat dalam surah at-tin.
Tetapi walaupun sudah banyak tuhan memberikan bukti yang amat sangat nyata, masih saja kita dapati manusia yang seakan-akan mereka tidak mempunyai akal dan fikiran.
Oleh karena itu ALLAH mengutus seorang pemimpin yang paling sempurna dari pemimpin-peminpin yang lain, paling luar biasa kegigihannya yang bahkan sampai-sampai imam bushiri pengarang syair yanng berjudul qasidah burdah menulis tentang kehidupan beliau yang amat sangat menyayat hati apabila kita menyelami kalimat demi kalimatnya dengan seksama.
ALLAH ta’ala mengutus nabi yang luar biasa tersebut dikarenakan umat manusia sudah terlalu banyak yang lalai terhadap tuhannya, terlalu banyak penyimpangan yang mereka perbuat, dan yang lebih memprihatinkan, mereka sudah tidak mempunyai akhlak yang baik.
Disinilah bukti nyata kasih sayang tuhan terhadap hambaNYA. Disampaikan perjalanan itu kepada ujungnya, tidak lagi terhenti di tengah jalan karena tidak ada kesanggupan lagi. DiberiNYA manusia itu pimpinanan. Pimpinan yang membawa mereka kembali menjadi manusia yang diciptakan sesuai dengan kodratnya.
Di utusnya nabi akhir zaman tidak lain adalah untuk membentuk dan mengembalikan manusia menjadi manusia yang berakhlak kembali. Memiliki iman yang akan membawa mereka kepada keselamatan, islam sebagai jalan dan ihsan hasil dari keduanya tersebut.






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Iman, Islam dan Ihsan
1.      Iman
         Kita tidak mungkin menjadi mukmin yang hakikitanpa mengenal profil nabi kita Muhammad S.A.W.. sebab, hanya dengan itu kita tahu bagaimana seharusnya mengamalkan agama islam ini.[1]
         Membahas tentang prihal iman maka pembahasan tersebut menjurus kepada ilmu tauhid. Ilmu tauhid tidak dapat dipisahkan dengan permasalahan keimanan. Dengan demikian, membahas ilmu tauhid berarti juga menerangkan segala sesuatu tentang keimanan serta rukun-rukunnya sebab yang diisyaratkan dengan tauhid ialah al-iman.[2]
     Iman berasal dari kata : " ايمان "  merupakan bentuk masdar yang fi’il madhinya adalah " امن "
                 Yang menurut lughah (bahasa) artinya adalah :
صد قه ووثق به                                                            
                 (Membenarkan serta mempercayakan). [3]
Secara etimologi berarti:
اٰمَنَ - يُؤْمِنُ - اِيْمَانًا -aamana-yu minu-iimaanan = Mengamankan.
اٰمَنَ بِ -aamana bi = Percaya.[4]
     Menurut para ahli kalam yang termaktub (tercantum) dalam kitab al-a’lamah as-syayid husein affandi al-jisri at-tharabilisi yang berjudul al husunul hamidiyyah, pengertian iman adalah sebagai berikut :
     “membenarkan apa-apa yang dibawa Rasulullah SAW. Yang diketahui kedatangannya secara pasti, maksudnya tekad membenarkan apa-apa yang dibawa nabi itu dari sisi Allah SWT, yang diketahui secara yakin kedatangannya disertai ketundukan hati.[5]
     Menurut imam bukhari sendiri, iman adalah:الايمان قول وعمل يزيد وينقص   
ucapan dan amalan (pekerjaan), bertambah dan berkurang.[6]
           Menanggapi pernyataan beliau tersebut tentang bertambah serta berkurangnya
iman di jawab berbeda oleh ulama yang masuk dalam pembahasan ilmu kalam.
                 Apakah benar iman itu bisa bertambah serta bisa pula berkurang?
           Senada dengan pernyataan tersebut imam al-asy’ari menyatakan bahwa iman itu bisa naik serta bisa pula turun. Dapat  bertambah akan tetapi dapat pula berkurang.
           Pernyataan beliau tersebut menyatakan bahwa bukan pengertian iman secara esensi yang dapat bertambah serta berkurang akan tetapi yang disebutkan beliau itu adalah pengertian iman secara sifat.
           Kemudian menurut al-bazdawi iman tidak bisa naik maupun turun atau tidak dapat bertambah maupun berkurang. Hanya saja beliau mencontohkan bahwa iman tersebut adalah suatu benda yang terkena cahaya yang mana cahaya tersebut akan membuat bayangan, bayangan benda tersebut dapat berupa bayangan yang sedikit bisa pula berupa bayangan yang banyak sesuai dengan cahaya yang di berikan kepada benda tersebut. Nah jika benda tersebut dimisalkan dengan iman, apakah benda tadi dengan sendirinya bisa bertambah serta bisa berkurang? Tentu tidak bukan, karena yang dapat bertambah serta berkurang adalah bayangan dari benda tersebut dan bayangan itulah yang dimaksudkan sebagai iman yang bisa bertambah dan berkurang.
           Seseorang yang telah beriman wajib menjaga keimanannya dari segala perbuatan buruk yang akan mengakibatkan rusaknya iman tersebut.[7]
           Iman itu belumlah cukup apabila hanya diucapkan dengan lidah saja, tetapi harus disertai dengan amal saleh, yaitu melaksanakan semua perintah syari’ah agama. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW.:
           “Iman ialah kepercayaan (diyakini) di dalam hati, ditetapkan (diucapkan) dengan lidah, dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).”
Ada pula riwayat hadits yang menjelaskan tentang keagungan iman, seperti riwayat berikut.
           Dikeluarkan oleh Bukhari (6443) dan Muslim (94) dari Abi Dzar r.a. ia berkata: “pada suatu malam aku keluar rumah, tba-tiba kulihat Rasulullah s.a.w. berjalan sendirian tidak ada seorangpun yang bersamanya, lalu aku berkata dalam hati: mungkin Rasulullah saw. Ingin sendirian, “ Abu Dzar r.a. berkata “ aku kemudian berjalan di bawah bayang-bayang rembulan, Rasulullah saw. Menoleh dan melihatku, “kemudian berkata: “siapakah ini?”, aku menjawab: ” aku Abu Dzar, “ beliau berkata: “ wahai Abu Dzar kemarilah,” abu dzar r.a. berkata: “ lalu aku berjaalan bersamanya sejam lamanya, “ maka beliau bersabda: “ sesungguhnya orang yang memperbanyakharta didunia mereka itulah yang akan kemiskinan pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi kebaikan oleh Allah subhanahu wa taala, hingga ia membelanjakan hartanya dari samping kanan, kiri, dari depan, belakang dan selalu berbuat kebaikan, : Abu Dzar berkata: “ aku berjalan bersama beliau sejam lamanya”, kemudian beliau berkata kepadaku: “duduklah di sini! “, Abu Dzar berkata: “Rasulullah saw. Menyuruhku duduk di sebuah tempat luas yang dipenuhi dengan batu, “ beliau berkata: “ tunggu di sini sampai aku kembali,” Abu Dzar r.a. berkata: “Rasulullah saw. Pergi ke sebuah tempat yang  dipenuhi batu hitam, hingga aku tidak melihatnya, dan akupun lama menunggu beliau,  tidak lama kemudian aku mendengar suaranya ketika hendak dekat padaku, “ setelah datang dan aku tidak sabar aku langsung bertanya kepadanya: “wahai nabi Allah ! dengan siapa kau berbicara disana?: ”, aku tidak mendengar seorangpun yang menjawabmu?, beliau menjawab: “ itu Jibril yang sedang datang dengan membawa wahyu “, ia berkata kepadaku: “ Wahai Muhammad! Berilah kabar gembira umatmu dengan surga bagi siapapun yang mati dan tidak berbuat syirik kepada Allah sekalipun,“ lalu aku bertanya: “ Wahai Jibril! Meski ia melakukan zina dan mencuri? “, Jibril menjawab: “Ya”, aku (Abu Dzar) bertanya: “ wahai Rasulullah! Meski berzina dan mencuri?”, beliau menjawab: “Benar”, aku bertanya lagi:” meski berzina dan mencuri?”, kemudian beliau menjawab: “ Ya, meskipun ia meminum khomer (minuman keras)”. (demikian disebutkan dalam jam’ul fawaid jilid 1 hal 7, dan ada tambahan dalam Riwayat Bukhari, Muslim Dan Tarmidzi dalam pertanyaan keempat: “ meski kau tidak bisa menerimanya wahai Abu Dzar”)[8]
           Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa setiap orang beriman harus mengamalkan keimanannya dalam perbuatan lahiriah dan batiniah (keyakinan hati yang didasari oleh keikhlasan). Bila tidak demikian, maka keimannya belum sempurna.[9]
2.      Islam
     Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti 'Menyelamatkan'. beberapa istilah terpenting dalam pemahaman mengenai keislaman, yaitu Islam dan Muslim. Kesemuanya berakar dari kata Salam yang berarti kedamaian. Kata Islam lebih spesifik lagi didapat dari bahasa Arab Aslama, yang bermakna "untuk menerima, menyerah atau tunduk" dan dalam pengertian yang lebih jauh kepada Tuhan.
     Pengertian Islam bisa kita bedah dari dua aspek, yaitu aspek kebahasaan dan aspek peristilahan. Dari segi kebahasaan, Islam berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh sebab itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah swt. disebut sebagai orang Muslim.
     Dari uraian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagai panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan telah menyatakan patuh dan tunduk kepada Allah.
     Adapun pengertian Islam dari segi istilah, banyak para ahli yang mendefinisikannya di antaranya Prof. Dr. Harun Nasution. Ia mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama) adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi menganal berbagai segi dari kehidupan manusia.
     Sementara itu Maulana Muhammad Ali mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian; dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan namanya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama seluruh Nabi Allah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an, melainkan pula pada segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya pada undang-undang Allah.
     Kemudian menurut Hamka setelah manusia menerawang, berfikir, merenung, membanding, mengukur, menjangka, pendeknya memfilosof, akhirnya sampailah dia di ujung perjalanan. Di dinding yang tidak tersebrangi itu. Segala macam telah dicobanya. Akhirnya yakinlah dia bahwa memang ada sesuatu itu, dialah yang Mutlak, Dialah Yang Maha Kuasa, Dialah puncak (kata plato). Dialah Tao, yang tak dapat diberi nama (kata Lao Tze). Maka insyaflah manusia akan kelemahan dirinya, dan insyaf  akan kemaha besarnya yang ada itu. Maka menyerahlah dia dengan segala rela hati. Penyerahan yang demikian dalam bahasa arab dinamai Islam.[10]
Dari pengertian Islam tersebut, adanya 3 aspek, yaitu:
a.       Aspek vertikal
Mengatur antara makhluk dengan kholiknya (manusia dengan Tuhannya). Dalam hal ini manusia bersikap berserah diri pada Allah.
b.       Aspek horizontal
Mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Islam menghendaki agar manusia yang satu menyelamatkan, menentramkan dan mengamankan manusia yang lain.
c.       Aspek batiniah
Mengatur ke dalam orang itu sendiri, yaitu supaya dapat menimbulkan kedamaian, ketenangan batin maupun kemantapan rohani dan mental.

           Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengetian islam adalah sebuah agama yang tidak membebani tidak pula memanjakan pemeluknya ( agama pertengahan) yang mana tanpa ada paksaan untuk pemeluknya  menyerah atau tunduk sesuai dengan fitrahnya dan selamatlah mereka yang taat serta benar-benar memegangnya.
3.      Ihsan
     Ihsan  ( ناسحI ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.” Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.[11]
     Ihsan ialah melaksanakan ibadah dengan sepenuh hati karena menyadari bahwa Allah selalu melihatnya, hingga ia merasakan berhadapan langsung dengan Allah dan bahkan ia melihat Allah SWT. dengan hati nurani. Semua itu dilakukannya dengan ikhlas.[12]
     Seseorang tidak akan merasakan nikmatnya ibadah apabila dia tidak merasa melihat dengan tuhannya. Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
     Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
     “sesungguhnya Allah mewajibkan al-Ihsan dalam segala masalah, oleh karena itu jika kalian berperang harus dengan satria, dan jika menyembelih binatang pun harus dengan cara yang baik (tidak sadis)”.[13]
     Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di Rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya.
     Sedangkan ihsan dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka.


Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu:
a.    Wajib
       Yang hukumnya wajib, misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah.
b.   Sunnah
      Yang hukumnya sunnah, misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang.

     Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.[14]

B.     Hubungan antara iman, islam dan ihsan
Islam, Iman dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya lewat tiga cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriah manusia sebagai hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yang menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan untuk mempelajari ihsan sebagai tata cara beribadah adalah bagian dari ilmu Tasawuf.
QS Ali-Imran ayat 19 :
¨bÎ) šúïÏe$!$# yYÏã «!$# Þn=óM}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB Ï÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $Jøót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ 
Artinya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Di dalam ayat tersebut dijelaskan kata Islam dan selalu diikuti dengan kata addin yang artinya agama. Addin terdiri atas 3 unsur yaitu, iman, Islam, dan ihsan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa iman merupakan keyakinan yang membuat seseorang ber-Islam dan menyerahkan sepenuh hati kepada Allah dengan menjalankan syareatnya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh syariat Islam.
Selain itu iman, islam, dan ihsan sering juga diibaratkan hubungan diantara ketiganya adalah seperti segitiga sama sisi yang sisi satu dan sisi lainya berkaitan erat. Segitiga tersebut tidak akan terbentuk kalau ketiga sisinya tidak saling mengait. Jadi manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman, islam dan ihsan.
C.     Perbedaan Antara Iman, Islam, Dan Ihsan
Disamping adanya hubungan diantara ketiganya,  juga terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati. Islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal, dan Ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata. Dan dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau tebal iman dan islamnya.
Islam dan iman bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya,  karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya,  karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.
Iman lebih umum daripada Islam dari maknanya, karena ia mengandung Islam. Maka, seorang hamba tidak akan sampai kepada tingkatan iman kecuali apabila telah merealisasikan Islam dan iman lebih spesifik dari sisi pelakunya, karena ahli iman adalah segolongan dari ahli Islam (muslim), bukan semuanya. Maka, setiap mukmin adalah muslim dan tidak setiap muslim adalah mukmin.

D.     Keutamaan Iman, Islam dan Ihsan bagi Manusia
Di antara perbendaharaan kata dalam agama  Islam  ialah  iman, Islam  dan  ihsan.  Berdasarkan  sebuah  hadits, ketiga istilah itu memberi  umat  Islam  (Sunni)  ide  tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang
penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup.
Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (al-Islam) tidak absah tanpa iman (al-iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (al-ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  inisial  Islam. Ternyata pengertian antara ketiga istilah itu terkait satu  dengan  yang  lain, sehingga setiap satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam iman terdapat Islam  dan ihsan,  dalam  Islam  terdapat  iman dan ihsan dan dalam ihsan terdapat iman dan Islam. Dari  sudut  pengertian  inilah  kita melihat iman, Islam dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi.




















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
          
·            Iman adalah ucapan yang disertai dengan perbuatan diiringi dengan ketulusan niat dan dilandasi dengan Sunnah.
·            Islam adalah  inisial  seseorang  masuk  ke dalam  lingkaran  ajaran  Ilahi.
·            Ihsan adalah cara bagaimana seharusnya kita beribadah kepada Allah.
Islam, Iman dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar aqidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.


















DAFTAR PUSTAKA
AL Kaff Abdullah Zakiy KH. dan Drs. Maman Abdul Djaliel MUTIARA ILMU TAUHID. CV. PUSTAKA SETIA.
HAMKA, Prof. DR. PELAJARAN AGAMA ISLAM. PT. BULAN BINTANG.
Hasan, Muhammad Tholhah. Islam dalam Perspektif Soaial Kultural. Lantabora Press, Jakarta, cet III, 2005
Purnomo, sanggit. Tips cerdas emosi dan spiritual islami. MPDMKPN, Jakarta, 2010
Yusuf Al- Kandahlawy, Muhammad. Kehidupan para sahabat rasulullah saw.PT. BINA ILMU, Surabaya, 2007

Islam, Negara dan Kemajukan Umat



ISLAM, NEGARA DAN KEMAJEMUKAN UMAT
Oleh:
SETIONO

            Islam merupakan suatu agama yang sangat progresif dalam perkembangan ataupun penyebarannya, bahkan Islam sendiri mudah menerima kebudayaan baru dengan cara memfilter hal-hal yang positif. Islam juga suatu hal yang unik dalam perjalanannya dan penyebarannya, karena Islam mampu membentuk suatu kebudayaan yang dapat melahirkan suatu demokrasi yang dapat diterima oleh masyarakat. Islam sangat toleran dalam hal-hal agama dan demokrasi, sebab Islam telah mampu menggabungkan atau memasukan nilai-nilai agama dalam suatu kebudayaan. Ketika Islam mampu melahirkan suatu kebudayaan yang mampu diaktualisasikan, maka pada saat itu juga telah muncul nilai-nilai religius dan nilai-nilai demokrasi pada tubuh Islam itu sendiri.
            Agama itu sendiri suatu hal yang mampu memberikan daya dorong perubahan sosial secara demokratik. Karena agama tidak hanya sebagai pandangan hidup manusia saja, akan tetapi agama juga merupakan sarana manusia untuk menciptakan kedamaian serta mampu mengemukakan pendapatnya secara demokratis. Bahkan menurut Imam Aziz, 1993 : “Agama diposisikan sebagai landasan satu-satunya bagi pembentukan masyarakat dan pemecahan krisis kemanusiaan secara umum”. Bahkan agama sendiri berada dalam posisi yang kontroversial. Di satu sisi, agama diharapkan mampu mendorong lahirnya sikap-sikap inklusif dalam proses demokrasi dan demokratisasi. Di sisi lain, agama justru menjadi kendala serius bagi munculnya sikap inklusif itu, ketika ia mementingkan dirinya sendiri dalam bentuk symbol-simbol dan pelembagaan agama yang kaku. Sehingga hal tersebut seringkali sulit untuk dihindari, mengingat setiap orang dalam memeluk agama bukanlah sekedar persoalan individual, tetapi sangat terkait dengan dimensi sosiokultural tertentu.
            Agama sangat berhubungan erat dengan pelembagaan, struktur sosial dan proses perubahan sosial. Hubungan itu dapat bermakna fungsional yang positif ataupun disfungsional yang negatif, tetapi seringkali samar-samar. Demokrasi dalam agama merupakan persoalan yang rumit dalam tradisi Islam. Persoalannya bermula dari hubungan agama dan Negara yang tidak tuntas dalam Islam. Karena pemerintahan yang tidak berasal dari rakyat disebut pemerintahan yang tidak mempunyai legitimasi. Pemerintahan yang tidak dijalankan oleh rakyat disebut pemerintahan otoriter. Pemerintahan yang dijalankan tidak untuk rakyat adalah suatu pemerintahan yang korup. Dari ketiga hal tersebut, kita dapat menguji, apakah pemerintahan bisa disebut demokratis atau tidak.
            Sejumlah gerakan religius berhasil meraih sukses, sekalipun pendukung-pendukungnya yang ekstrem telah ditumpas, ketika gagasan-gagasan mereka diasimilasi ke dalam ideologi politik Negara. Yang ditemukan oleh Juergensmeyer menegaskan bahwa ideologi agama formal yang diramalkan sebagai tidak memiliki masa depan itu ternyata semakin menunjukkan kekuatannya. Oleh karena itu, sulit diterima analisis yang menyatakan bahwa keberadaan organized religion akan ditinggalkan orang. Kebangkitan agama-agama formal semakin menguat, yang dalam batas-batas tertentu berpadu secara simbiotik dengan semangat etnisitas.
            Dari uraian diatas sehingga dapat disimpulkan bahwa agama memiliki dua sisi yaitu positif dan negatif. Agama juga mampu mendorong untuk merubah suatu hal yang baru dan bahkan kaitannya sangat erat dengan kehidupan masyarakat atau sosial masyarakat. Bahkan agama itu sendiri mampu melahirkan kebudayaan yang dapat diaktualisasikan oleh masyarakan sehingga membentuk suatu demokrasi. Dengan demikian agama mampu bangkit dan menunjukkan kekuatan-kekuatan positif yang mampu membangun suatu demokrasi dan demokratisasi. Sehingga agama mampu saling membaur dengan kehidupan masyarakat dan Negara.

ISLAM DI JAWA



“ZAMAN ISLAM DI JAWA”
Oleh:
SETIONO
 
            Islam berkembang di jawa begitu banyak tersebar di seluruh nusantara. Bahkan Islam berkembang yang kita ketahui, bahwa Islam awal mulanya muncul melalui perdagangan yang dibawa oleh orang-orang dari Gujarat. Dari hal tersebut, mulailah adanya kebudayaan islam. Kebudayaan islam itu sendiri ada dua ciri yang cukup moderat yaitu bernafaskan tauhid dan hasil buah pikiran (dan pengelolahannya untuk kesejahteraan umat manusia).
            Berbicara tentang zaman Islam di Jawa, sangat menarik. Karena Islam di Jawa cukup unik, sebab Islam di Jawa dipengaruhi dua kebudayaan yaitu kebudayaan Hindhu dan Budha. Sehingga Islam di Jawa sangat kental dengan tradisi ataupun adat yang telah ada sejak dulu sebelum Islam masuk ke Pulau Jawa. Islam di Jawa mulai berkembang dengan adanya kerajaan-kerajaan Islam yang muncul dan dengan datangnya para wali sanga serta sultan-sultan yang menganut Islam. Bukti adanya Islam telah ada yaitu dengan adanya batu nisan raja-raja yang menganut Islam. Walaupun hal itu sebagai awal diperkirakannya awal mula adanya Islam masuk ke Indonesia, akan tetapi hal itu masih adanya simpang siur. Ada yang mengirakan Islam muncul pada masa itu ataupun sebelumnya. Islam mulai lebih dikenal dengan adanya sastra Melayu yang awal munculnya menjadi peradaban Islam di Indonesia (abad 16 dan 17 M). Dengan hal itu mengakibatkan munculnya sastra Islam, dimana Islam dan Melayu kemudian menjadi dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan. Islam mulai diterima di daerah-daerah pesisir dengan penuh kegairahan oleh masyarakat. Sebenarnya pada saat itu banyak guru-guru tarekat yang menjadi penyebar agama bahkan ada faktor politik ataupun persaingan. Akan tetapi bagi kalangan pesantren agamalah yang menjadi prioritas utama, sedangkan kekuasaan politik tabir penghalang.
            Ketika membahas tentang sastra, budaya Islam, dan kejawen itu akan menghasilkan suatu interaksi yang dapat melahairkan pemahaman. Pemahaman itu bahwa dalam suatu sastra Jawa Pesantrenan, bahasa dan sastra Jawa dijadikan sebagai suatu wadah untuk memperkenalkan ajaran-ajaran Islam. Sedangkan dalam sastra Islam-Kejawen unsure-unsur sufisme dan ajaran budi luhurnya diserap oleh sastrawan Jawa untuk mengislamkan  warisan sastra Jawa pada masa Hindhu. Dari hal itu bisa membawa Islam lebih maju dan berkembang pesat, karena dengan adanya keterbukaan terhadap unsure-unsur dinamis kebudayaan Barat. Akan tetapi hal itu bisa berhasil, jika umat Islam lebih pandai dalam berpikir secara ilmiah. Sehingga dapat diperkirakan Islam yang datang ke Indonesia memiliki corak sufistik. Bahwasannya alam pikiran sufisme dengan paham ruh aktifnya selaras dengan alam pikiran animism-dinamisme. Maka dari itu, agama Islam disambut sebagai penyempurna warisan budaya mereka. Apalagi dengan adanya mitos wali-wali, tentu memperoleh sambutan hangat dikalangan masyarakat pesisir maupun pedesaan. Perlu di ingat bahwa penyebaran agama Islam melalui dakwah dan pendidikan bergerak perlahan dari daerah-daerah pesisir maupun pedesaan. Dengan dakwalah Islam di Jawa berkembang sangat cepat, di karenakan dalam Islam tidak ada paksaan. Seperti halnya, dakwah yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga dengan penuh keselarasan, mudah diterima, dan menyesuaikan keadaan ataupun kebudayaan (tradisi) pada masyarakat setempat. Serta meluruskan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Demikian pula dongeng tentang Wali Sanga menurut hipotesis G.W.J Drewes adalah merupakan kecerdikan para sastrawan Jawa dalam membungkus kepercayaan Jawata Sanga dengan kemasan Islam. Maka, pergulatan budaya intelektual antara Islam dan budaya Jawa sangatlah rumit. Karena mereka masih sibuk mencerna budaya Islam Timur Tengah melalui kitab-kitab berbahasa Arab. Maksudnya para kyai hanya menggunakan buku-buku yang berbasis bahasa Arab dalam mengajarkannya kepada santrinya. Sehingga mereka kurang mampu mengolah ajaran tersebut.
            Penyebaran agama Islam yang pada mulanya terpusatkan di daerah-daerah pesisir, akhirnya mendapat sambutan positif dari para kepala daerah. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada sangka politik, karena umat Islam sudah terbiasa diperintah oleh raja-raja yang beragama Islam. Mungkin politik itu ada, akan tetapi politik tidak di utamakan dimasa itu. Karena pada saat itu Islam hanya ingin menyejahterahkan umat dan meluruskan aqidah.
            Islam berkembang  di Indonesia melalu perdagangan, bukan melalui penaklukan. Hubungan perdagangan ini semula merupakan tulang punggung bagi penyebaran Islam di kepulauan Nusantara, termasuk di Jawa. Sejak abad ke-16 perdangan ini direbut oleh orang barat atau kolonial barat yang beragama Kristen. Dengan hal itu Islam menjadi suatu symbol nasionalisme yang religius. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam di Jawa berkembang dengan adanya perdagangan bukan penaklukan. Islam di Jawa berkembang juga melalui dakwahnya para wali sanga, dengan tanpa adanya paksaan. Begitu pula Islam di Jawa masih benyak yang memiliki pemahaman tentang animisme dan dinamisme. Sehingga tradisi di Jawa tetap selalu hidup dalam lingkungan masyarakat. Sebab semua hal itu dipengaruhi adanya kebudayaan atau warisan dari Hindhu dan Budha. Islam di Jawa juga diterima dengan penuh kegairahan oleh masyarakat, sehingga Islam di Jawa penuh keunikan. Karena ada faktor politik, sosial, serta tradisi ataupun warisan dari budaya yang telah ada sebelumnya.

Makna Tahlilan

  PROSESI DAN MAKNA TAHLILAN DI DESA KLORON PLERET BANTUL SETIONO    A.    Latar Belakang Tahlilan sangat erat sekali kaitannya de...